TEORI DAN KEGUNAANNYA SECARA TEORITIS

9 04 2010

Memahami betapa pentingnya teori[1] untuk sebuah penelitian, maka istilah teori menurut Oxford Reference dictionary, adalah: A system of ideas formulated (by reasoning from known fact) to explain something. An opinion, supposition in general (opp. practice) an exposition of the principles on wich a subject is based.[2]

Maksudnya adalah teori suatu sistem, dari sejumlah ide yang diformulasikan (pleh proses penalaran dari pengetahuan menjadi kenyataan) untuk menjelaskan sesuatu. Sebuah opini, sebuah perkiraan umum (lawan dari praktis). Sebuah perjelasan yang terperinci dari serangkaian prinsip dimana sebuah subjek diletakkan sebagai dasar.

Hall dan Lindzei berpendapat, bila mengacu pada suatu istilah, maka ditemukan bahwa teori bukan merupakan penentu awal atau proses penentu lainnya dan juga bukan suatu “pemberian” dari keaslian data. Maka istilah teori difahami sebagai serangkat “konvensi” yang diciptakan oleh para pakar teori. Sebuah teori adalah sebuah hipotesis yang tidak substansial, atau belum menjadi sebuah spekulasi yang mengacu kepada realitas yang belum dikenal secara definitif menjadi suatu kenyataan.

Kerlinger (1986) memberikan definisi teori dari pandangan yang agak berbeda adalah seperangkat konstruk (konsep) yang saling berhubungan, yang mempunyai definisi dan dalil-dalil, yang dipresentasikan melalui pandangan sistematik dari fenomena-fenomena spesifikasi yang saling berhubungan di antara variabel-variabel, dengan maksud menjelaskan dan memprediksi fenomena atau gejala tersebut.

Sedangkan menurut Brodbeck (1962), muncul banyak ide-ide yang sama. Di samping itu, teori merupakan suatu pembelajaran di mana himpunan dari seperangkat hukum dan semua statement berada di dalam teori tersebut. Hukum yag menjelaskan disebut Axioma, sedangkan penjelasan generalisasinya adalah “teori”.[3]

Menurut Ahmad Tafsir,  teori mempunyai tiga fungsi dilihat dari kegunaan teori tersebut dalam menyelesaikan masalah.

Pertama, Teori sebagai alat Eksplanasi. Dalam fungsi ini teori berusaha menjelaskan melalui gejala-gejala yang timbul dalam satu permasalahan. Misalnya: tragedi 11 september yang memakan banyak korban dan kerugian secara materiil. Hal ini dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap keangkuhan sebuah negara Adi Kuasa. Gejalanya dapat kita lihat dari maraknya beberapa kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok anti Amerika. Al-Qaeda misalnya, sebuah oraganisasi rahasia yang menjadi simbol perlawanan terhadap Amerika.

Kedua, Teori sebagai alat Peramal. Dalam fungsi ini teori memberikan bentuk prediksi-prediksi yang dilakukan oleh para ilmuwan dalan menyelesaikan suatu masalah. Misalnya: isu global warming. Digambarkan dalam kasus ini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata disatu sisi memberikan dampak buruk terhadap ekosistem alam. Prediksi yang dilakukan oleh para ilmuwan yang menggambakan tentang keseimbangan alam yang rusak oleh perilaku manusia itu sendiri.

Ketiga, Teori sebagai Alat pengontrol. Dalam fungsi ini ilmuwan selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol terhadap masalah yang terjadi. Kita bisa melihat dari solusi yang ditawarkan oleh para ilmuwan.

Selain itu juga, teori dapat berperan membantu untuk:

  1. Menjelaskan definisi operasional variabel penelitian kita,
  2. Menjelaskan pola hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya,
  3. Menentukan metodologi penelitian secara akurat,
  4. Menentukan metode analisis yang tepat, dan
  5. Menentukan cara penafsiran temuan secara objektif.

Menrutu Singarimbun[4], peran teori adalah menerangkan fenomena sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat perhatiannya. Selanjutnya dikataka bahwa teori berperan sebagai berikut:

  1. Teori adalah serangkaian proposisi antar konsep-konsep yang saling berhubungan,
  2. Teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara menentukan hubungan antar konsep,
  3. Teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E. Zaenal. 1987. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Cetakan 8. Jakarta: PT Gramedia.

Ash-shadr, Muhammad Bakir. 1998. Falsafatuna. Bandung: Mizan.

Ismaun, (2002), Filsafat Ilmu, Materi Kuliah, Bandung (Terbitan Khusus).

Mukhtar. 2007. Binbingan Skripsi, tesis dan Artikel Ilmiah. Ciputat: Gaung Persada Press

Nasution, S. 2006. Metode Risearch. Cetakan 8. Jakarta : Bumi Aksara.

Sudarto (1997), Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suriasumantri, jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sutrisno dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi.


[1] Lihat juga Muhammad Bakir Ash-shadr. 1998. Falsafatuna. Bandung: Mizan. hal. 207-228

[2] Joyce M. Hawkins, The Oxford Reference (Great Britanian: Lcarendon Press Oxford, 1990), hal. 854.

[3] Lihat Prof. Dr. H. Mukhtar, M. Pd. Binbingan Skripsi, tesis dan Artikel Ilmiah. 2007. Ciputat: Gaung Persada Press. hal. 62-66.

[4] Ibid. hal. 68.





HIPOTESIS DAN LANGKAH OPERASIONALNNYA

8 04 2010

Hipotesis dapat diartikan sebagai pendapat sementara yang dianggap benar sebelum dapat diuji kebenarannya, karena itu hipotesis perlu dirumuskan secara teliti, terinci dan baik sebab bukan tidak mungkin hipotesis yang dituliskan merupakan jawaban yang sebenarnya terhadap permasalahan penelitian. Merumuskan hipotesis yang baik sangat berguna untuk menjelaskan masalah, petunjukpemilihan metodologi yang tepat dan menyusun langkah dan pembuktian penelitian.

Hipotesis merupakan salah satu bentuk konkrit dari perumusan masalah. Dengan adanya hipotesis, pelaksanaan penelitian diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Pada umumnya hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menguraikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan tak bebas gejala yang diteliti. Hipotesis mempunyai peranan memberikan arah dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan memandu ke arah penyelesaiannya secara lebih efisien. Hipotesis yang baik akan menghindarkan penelitian tanpa tujuan, dan pengumpulan data yang tidak relevan. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.

Ciri-ciri hipotesis yang baik adalah, logis tumbuh dari atau ada hubungannya dengan lapangan ilmu pengetahuan yang sedang dijelajahi oleh peneliti remaja; jelas, sederhana, dan terbatas; dan dapat diuji. Kegagalan merumuskan hipotesis yang baik akan mengaburkan hasil penelitian. Hipotesis yang abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, tetapi juga sukar diuji secara empiris (pengalaman pengamatan).

1. Rumusan Hipotesis

Ada beberapa persyaratan untuk merumuskan hipotesis, diantaranya adalah : a) Hipotesis dirumuskan dalam kalimat berita, bukan dalam kalimat tanya. b) Hipotesis harus jelas tidak bermakna ganda. c) Hipotesis dirumuskan secara opreasional sehingga memudahkan pengujiannya.

Misalnya, hipotesis yang berbunyi : Laku penampilan guru yag baik berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kurang operasional dibandingkan misalnya, Sikap guru yang demokratis akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

2. Macam-Macam Hipotesis

Macam-macam hipotesis yang sering dijumpai adalah :

a) Hipotesis Deskriptif

Hipotesis ini menunjukkan dugaan sementara bagaimana (how) benda-benda, peristiwa-peristiwa, atau variable-variabel itu terjadi. Hipotesis ini menggambarkan karakteristik suatu sample menurut variable tertentu. Contoh : Proporsi mahasiswa yang kaya hasrat untuk maju yang menyusun tesis bermutu lebih banyak daripada yang miskin hasrat untuk maju.

b) Hipotesis Argumentasi

Hipitesis ini menunjukkan dugaan sementara tentang mengapa (why) benda-benda, peristiwa-peristiwa, atau variable-variabel itu terjadi. Hipotesis ini merupakan pernyataan sementara yang diatur secara sistematis sehingga salah satu pernyataan merupakan kesimpulan (konsekuen) dari pernyataan yang lainnya (antiseden).

c) Hipotesis Kerja

Merupakan hipotesis yang meramalkan atau menjelaskan akibat-akibat dari suatu variable yang menjadi penyebabnya. Jadi hipotesis ini menjelaskan suatu ramalan bahwa jika suatu variable berubah maka variable tertentu akan berubah pula.

Rumusan Hipotesis Kerja ( H1 ) :

  1. Jika ¦… , maka ¦…

Contoh H1 : Jika orang banyak makan, maka berat badanya akan naik

  1. Ada perbedaan antara … dan ..¦.

Contoh H1 : Ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian.

d) Hipotesis Nol / Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik bertujuan memeriksa ketidakbenaran suatu dalil/teori dengan perangkat statistik/matematik, yang selanjutnya akan ditolak melalui bukti-bukti yang sah. Hipotesis nol kebalikan dari hipotesis kerja.

Rumusan hipotesis nol ( H0 ) :

(1) Tidak ada perbedaan antara …… dengan ….

Contoh H0 : Tidak ada perbedaan antara siswa tingkat I dengan iswa tingkat II dalam disiplin belajar.

(2) Tidak ada pengaruh … … terhadap ….

Contoh H0 : Tidak ada pengaruh jarak rumah ke sekolah terhadap kerajinan siswa berangkat ke sekolah





METODE ILMIAH DAN METODE PENELITIAN DAN LANGKAH-LANGKAHNYA SECARA RINCI DAN OPERASIONAL

8 04 2010

Istilah Metode berasal dari “methodos” dalam bahasa latin yang berarti cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan. Metode –metode yang bersifat umum berarti cara-cara penanganan yang bersifat umum terhadap sesuatu objek ilmiah tertentu,dengan kata lain kegiatan ilmiah yang manapun pasti menggunakan cara-cara seperti ini berupa metode analisa, sintesa,analitiko-sintetik,deduksi dan induksi. Sedangkan penelitian ilmiah[1] berusaha untuk menemukan, mengembangkan, dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. Dengan selalu melakukan penelitian ilmiah, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang.

Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
  2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
  3. Membangun sebuah bibliografi.
  4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.
  5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
  6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hubungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.
  7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
  8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.
  9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.

10.  Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.

11.  Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.

12.  Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.

13.  Mengatur data untuk persentase dan penampilan.

14.  Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).

15.  Menulis laporan penelitian.

Dalam melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) memberikan 5 langkah berikut:

1. Tentukan judul

Judul dinyatakan secara singkat.

2. Pemilihan masalah

Dalam pemilihan masalah ini harus: a). Nyatakan apa yang disarankan oleh judul. b). Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum. c). Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal- hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti.

3. Pemecahan masalah.

Dalam memecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut: a). Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bentuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah. b). Prosedur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat. c) Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan d). Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan. e).Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah. f).Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.

4. Kesimpulan

a). Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh b). Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.

5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah

Nyatakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya sebagai model dalam memecahkan masalah. Dari pedoman beberapa ahli di atas, maka dapal disimpulkan balnwa penelitian dengan mcnggunakan metode ilmiah sckurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

  1. a. Merumuskan serta mcndefinisikan masalah

Langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raguan. masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Sampai ke mana luas masalah yang akan dipecahkan Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapal dalam masalah Misalnya. masalah yang dipilih adalah Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa. dan sebagainya.

  1. b. Mengadakan studi kepustakaan

Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.

  1. c. Memformulasikan hipotesa

Setelah diperoleh infonnasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan. maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesa-hipolesa unttik penelitian. Hipotesa tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubunggan sangkut-paut antarvariabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesa merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.

  1. d. Menentukan model untuk menguji hipotesa

Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan. kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang. scperti ilmu ekonomi misalnva. pcngujian hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implisif terdapal dalam hipotesa. untuk diuji dengan teknik statistik yang tersedia. Pengujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data tersebut bisa saja data prime ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.

  1. e. Mengumpulkan data

Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesa perlu dikumpulkan. Bcrgantung dan masalah yang dipilih serta metode pcnelitian yang akan digunakan. teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan. misalnya. data diperoleh dan plot-plot percobaan yang dibual sendiri oleh peneliti Pada metode sejarah ataupun survei normal, data diperoleh dengan mcngajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questioner Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia di mana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.

  1. f. Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi

Setelah data terkumpul. pcneliti menyusun data untuk mengadakan analisa Sebelum analisa dilakukan. data tersebul disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data dapat dalam bentuk label ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah data dianalisa. maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.

  1. g. Membuat generalisasi dan kesimpulan

Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima. ataukah hiporesa tersebut ditolak.

  1. h. Membuat laporan ilmiah

Langkah terakhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat
laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri.

Sedangkan menurut Suryabrata (1989) langka-langka penelitian meliputi 11 langkah, yaitu :

1. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian

1.1 Identifikasi Masalah Penelitian

Masalah penelitian dapat bersumber dari : a. Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian b. Seminar, diskusi, konferensi dan lain-lain pertemuan ilmiah c. Pernyataan pemegang otoritas d. Pengamatan selintas e. Pengalaman pribadi f. Perasaan intuitif

1.2 Pemilihan masalah penelitian

Dalam memilih masalah penelitian ada 2 hal yang perlu dijadikan pertimbangan yaitu: a.Pertimbangan dari arah masalahnya b. Pertimbangan dari arah calon peneliti

1. 3 Perumusan masalah penelitian

a. Perumusan hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, b. Rumusan hendaklah padat dan jelas, c. Rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

2. Penelaahan Kepustakaan

a. Penelaahan sumber-sumber yang berupa buku, b. Pemilihan berdasarkan pada prinsip: 1. Relevansi 2. Kemutakhiran ( kecuali studi sejarah ), c. Penelaahan sumber-sumber yang berupa laporan hasil penelitian. Penilikan berdasarkan atas prinsip :1. Relevansi. 2. Kemutakhiran. 3. Bobot

3. Perumusan Hipotesis

Perumusan hipotesis hendaklah mempertimbangkan:

a)      Hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih

b)      Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.

c)      Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat.

d)     Hipotesis hendaklah dapat diuji, artinya hendaklah orang mungkin mengumpulkan data menguji kebenaran hipotesis itu.

4. Identifikasi, Klasifikasi dan Pendefinisian Variabel

a. Mengidentifikasi variabel.

Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian atau faktor-faktor yang berperanan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti

b. Mengklarifikasi variable

Berdasarkan proses kauantifikasinya, variabel digolongkan menjadi:1. Variabel nominal, 2.Variabel ordinal, 3. Variabel interval, 4. Variabel rasio.

Berdasarkan atas fungsinya dalam penelitian variabel dibedakan menjadi:1. Variabel tergantung2. Variabel bebas3. Variabel moderator, 4. Variabel kendali, 5. Variabel rambang.

c. Merumuskan definisi operasional variabel-variabel

Definisi operasional dirumuskan berdasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati (diobservasi).

  1. Yang berdasar atas kegiatan-kegiatan (operations) yang harus dilakukan agar yang didefinisikan itu terjadi
  2. Yang berdasar atas bagaimana hal yang didefinisikan itu nampaknya (seringkali menunjuk kepada alat pengambil datanya)

5. Pemilihan atau Pengembangan Alat Pengambil Data

Alat pengambil data harus memenuhi syarat-syarat: 1. Validitas, 2. Reliabilitas

6. Penyusunan rancangan penelitian

7. Penentuan sampel

8. Pengumpulan data

9. Pengolahan dan analisis data

10. Interpretasi hasil analisis

11. Penyusunan laporan

Dari beberapa pendapat para pakar yang telah disebutkan di atas dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan kegiatan penelitian dibagi dalam empat fase/tahap kegiatan, yaitu :1. Persiapan, 2. Pengumpulan data/informasi, 3. Pengolahan data/informasi, 4.Penulisan laporan penelitian


[1] Lihat juga Prof. Dr. H. Mukhtar, M. Pd. Binbingan Skripsi, tesis dan Artikel Ilmiah. 2007. Ciputat: Gaung Persada Press. hal. 23-28.





KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

16 03 2010

Komunikasi intrapersonal bisa dikatakan sebagai proses pengelolaan informasi. Sedangkan prosesnya meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Sensasi adalah proses menangkap stimuli.[1] Persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. Dengan kata lain, persepsi mengubah sensasi menjadi informasi. Sedangkan memori adalah proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali. Berpikir adalah mengeloh dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan respons. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut :

  1. A. Sensasi
“there is nothing

in the mind

except what was

first in the senses”

(John Locke)

Kata sensasi berasal dari kata “sense” yang berarti alat pengideraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Ada juga yang mengatakan bahwa sensasi dalam bahasa inggrisnya sensation berasal dari kata latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek.

Sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indera. Benyamin B. Wolman (1973:343) mengatakan bahwa sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.

Sensasi adalah penerimaan stimulus lewat alat indera.[2] Sensasi dipandang sebagai pasti, ditentukan secara mendasar, fakta kasar. Menurut beberapa pendapat, sensasi lebih berkonotasi dengan perasaan (tetapi bukan emosi). Sensasi sering digunakan secara sinonim dengan kesan Indrawi, sense datum, sensum, dan sensibilium.

Filusuf John Locke mengatakan bahwa, “there is nothing in the mind except what was first in the senses” (tidak apa dalam jiwa kita kecuali harus lebih dulu lewat alat indera). Oleh karena itu, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indera manusia dapat mengetahui dan memahami kualitas fisik lingkungannya. Manusia bisa memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Filusuf Berkeley mengatakan, andaikan kita tidak mempunyai alat indera, dunia ini tidak akan ada. Anda tidak tahu ada harum rambut yang disemprot dengan hairspray, bila tidak ada indera penciuman. Sentuhan lembut istri Anda tidak akan terasa bila indera peraba Anda sudah mati. Anda juga tidak mendengar ucapan terima kasih di telinga Anda, tidak melihat senyuman manis yang dialamatkan kepada Anda. Dunia Anda benar-benar tidak ada bila alat indera tidak ada. Dunia Anda tidak teraba, terdengar, tercium, dan terlihat.

Kalau kita mengenal ada lima pancaindera (alat indera), maka dalam psikologi dikenal Sembilan (bahkan ada yang menyebut sebelas) alat indera:

  1. Penglihatan
  2. Pendengaran
  3. Kinestesis
  4. Vestibular
  5. Perabaan
  6. Temperatur
  7. Rasa sakit
  8. Perasa, dan
  9. Penciuman

Dapat pula kita mengelompokkannya pada tiga macam indera penerima sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi ada yang dari eksternal (sumber informasi dari dunia luar) dan internal (sumber infomasi dalam diri individu). Infomasi eksternal diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata) dan informasi internal diindera oleh interoseptor (misalnya, sistem peredaran darah). Selain itu juga, gerakan tubuh kita sendiri diindera oleh proprioseptor (misalnya, oleh vestibular).

Stimuli adalah apa saja yang menyentuh alat indera, baik dari dalam maupun dari luar. Ketika Anda sedang membaca buku (stimuli eksternal), pikiran Anda diganggu oleh perjanjian hutang (stimuli internal), maka Anda serentak menerima dua macam stimuli. Alat indera Anda segera mengubah stimuli[3] ini menjadi energi saraf untuk disampaikan ke otak melalui transduksi.

Ketajaman sensasi juga ditentukan oleh faktor personal. Contohnya, masakan padang yang sangat pedas bagi orang jawa, ternyata biasa-biasa saja bagi orang Sumatera Barat. Perbedaan sensasi dapat disebabkan perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya, disamping kapasitas alat indera yang berbeda. Perbebadaan ini menyebabkan perbedaan pula dalam memilih pekerjaan atau jodoh, mendengarkan musik, atau memutar radio. Namun yang jelas sekali, sensasi mempengaruhi persepsi.


[1] Bila alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls saraf, dengan ‘bahasa’ yang difahami oleh (‘komputer’) otak, maka terjadilah proses sensasi. (Dennis Coon, 1977:79).

[2] Sedangkan persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di dalam otak. (Mahmud, 1990:41).  Persepsi lebih berhubungan dengan kognisi.

[3] Stimuli harus cukup kuat agar dapat diterima oleh alat indera. Batas minimal intensitas stimuli disebut “ambang mutlak” (absolute threshold). Misalnya: mata hanya dapat menerima stimuli yang mempunyai panjang gelombang cahaya antara 380-780 nanometer. Telinga dapat mendeteksi frekuensi gelombang suara yang berkisar antara 20-20.000 hertz. Manusia sanggup menerima temperatur 100C-450C. Dibawahnya akan menggigil dengan perasaan dingin yang mencekam, dan diatasnya akan meringis kepanasan.